Halaman ini sudah dilihat oleh: 1215 orang,

Tahu di nan kelompok masyarakat yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

1. Keluarga
2. Tetangga
3. Desa
4. Bangsa

Tahu di keluarga artinya tahu pada keluarga yang meliputi istri/suami, anak kemenakan, adik/kakak, ibu/bapak, nenek/kakek, dan seterusnya.
Terhadap masing-masing keluarga sudah ada ketentuan yang harus dilaksanakan misalnya anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipatenggangkan.

Maksudnya, seorang laki-laki yang beradat/beradab selalu menjaga anaknya agar terpelihara dari kesusahan, serta membimbing kemenakannya secara moril maupun materil, sedangkan terhadap orang-orang sekampung, dijaga perasaannya.
Kewajiban istri terhadap suami dilukiskan dalam pantun :

Kalau suami baru pulang
Jangan disambut dengan cemberut
Di depan pintu agar dijelang
Cepat siapkan urusan perut

Bila diri hendak berjalan
Mintalah izin pada suami
Tak perlu lama di rumah kenalan
Itulah adat di muka bumi

Anak dipangku kemenakan dibimbing
Orang kampung dipatenggangkan
Didiklah anak jangan maling
Walaupun lapar tidak makan

Ketika hidup berjiran tetangga
Jaga perasaan jangan menyinggung
Biasakan musyawarah dalam lembaga
Agar silaturahmi bisa disambung

Tahu di tetangga berarti mengetahui keluarga-keluarga yang tangga rumahnya terlihat langsung oleh kita.
Hal ini sangat penting karena tetanggalah yang lebih dulu mengetahui apabila kita mendapat keberuntungan maupun kesusahan, seperti kata mamangan:

Kaba baiek bahimbauan, kaba buruak bahambauan

Artinya jika mendapat keberuntungan maka tetangga sebaiknya diundang.
Sebaliknya jika mendapat kesusahan (musibah) maka tetangga datang ramai-ramai tanpa diundang.

Tahu di desa, dapat diidentikkan dengan pengertian yang dimaksudkan oleh orang Minang sebagai tahu pada kampung halaman atau tahu pada negari. Dalam mamangan disebutkan :

Ke kiri jalan ke pekan
Hiu beli, belanak diberi
Ikan panjang beli dahulu
Orang Minang kalau merantau
Kampung yang tidak dilupakan
Ibu cari, dunsanak dicari
Induk semang cari dahulu

Sebelum diberlakukan UU No. 5 Th. 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, orang Minang Kabau yang berdiam di luhak nan tigo bermukim di negari-negari untuk melaksanakan adat nan selingkuang negari.

Di tiap negari masyarakat dibagi menjadi empat kelompok suku induk.

Penduduk yang bersuku-suku ini bermukim di wilayah administrasi adat yang bernama kampung.
Jika ada penduduk negari yang tidak memiliki suku maka dia bukanlah penduduk asli.

Ketika itu keberadaan perangkat adat Minang Kabau (adanya negari) di Sumatera Barat didukung oleh sistem pemerintahan negara.

Dalam UU No. 5 Tahun 1974 negari dihapuskan dan diganti dengan desa.
Kini UU tersebut telah dicabut dan diganti sehingga keberadaan negari diakui kembali.

Tahu di negara, terutama terhadap negara yang melindungi diri dan keluarga kita, atau negara sendiri.
Demi tegaknya negara, kita harus ikut melaksanakan hak dan kewajiban, seperti kata pantun Melayu pada saat Portugis menyerang Malaka th 1511.

Kalau jatuh kota Malaka
Papan di Jawa kita tegakkan
Kalau demikian bagai dikata
Nyawa di badan kita serahkan

Dalam ajaran Islam mempertahankan negara adalah wajib hukumnya.
Seseorang yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless), kehidupan sehari-harinya sangat susah.
Dia tidak bisa bebas seperti warga negara lainnya dalam hal bekerja, berusaha maupun bermukim.

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama