Halaman ini sudah dilihat oleh: 2952 orang,

Tahu persyaratan manusia agar menjadi takwa
(menurut Imam Khusairi)

1. Tawadu'
2. Qona'ah
3. Waro'
4. Istiqomah

Tak kurang dari 187 (seratus delapan puluh tujuh) kali ayat al Qur'an menjelaskan dan memerintahkan takwa.
Nilai takwa terentang dari nol sampai tiada terhingga, dan inilah nilai rasa manusia.
Saat ini takwa sudah masuk ke dalam salah satu persyaratan untuk menjadi manusia Indonesia dan secara formal disebutkan di dalam dokumen-dokumen negara.
Tulisan takwa dalam bahasa Arab terdiri dari empat huruf yaitu T, Q, W, dan Y (masing-masing huruf Latin ini ucapannya tidak sama persis dengan huruf Arab).

Tawadu'
Artinya rendah hati (berbeda dengan rendah diri).
Orang yang mempunyai sifat rendah hati memakai ilmu padi, makin berisi butirnya, maka makin merunduk tangkainya.

Dia mengetahui, bahwa hakekat kesombongan itu hanyalah untuk menutupi keadaan yang sebenarnya (kurang ilmu, banyak utang daripada piutang, memakan barang subhat, haram dan sebagainya).
Oleh sebab itu orang yang bertakwa tidak akan berperilaku sombong.

Sikap tawadu' membuat pribadi seseorang menjadi konsisten/mantap, tidak tergantung keadaan.
Tidak kagetan menghadapi situasi masyarakat yang berubah setiap saat karena kemajuan teknologi dan informasi.

Falsafah Jawa menyebutkannya Ojo kagetan, ojo rumongso, ojo dumeh (jangan kagetan, jangan merasa lebih, jangan mentang - mentang).

Qona'ah
Artinya merasa cukup atas rejeki/untung yang diberikan Allah, karena rejeki/untung tidak dapat ditargetkan.
Rejeki mutlak pemberian Allah.

Dalam bahasa Minang, kalimat mencari untung maksudnya bukan berusaha mendapatkan laba dari jual beli, tetapi dikatakan kepada orang yang pergi berusaha, bekerja di luar daerah (merantau).
Kalimat membawa untung maksudnya bukan menggotong hasil laba perdagangan, tetapi dikatakan kepada orang yang pergi merantau untuk berusaha atau bekerja di tempat lain, karena di tempat asalnya dia tidak mempunyai apa-apa lagi.

Ungkapan mujur sepanjang hari, malang sekejap mata membuktikan kepada kita bahwa rejeki atau untung itu diberikan Allah setiap hari, ada di mana-mana dan beragam macamnya.

Orang yang bisa mengambil rejeki ini disebut sebagai orang yang beruntung.
Orang yang tak beruntung berarti tidak mampu mengambil rejeki, meskipun ia sudah berusaha mencarinya ke mana-mana.
Syarat untuk bisa mengambil rejeki harus punya ilmu, mau berkerja, dan berdisiplin.

Karena rejeki ada dimana-mana, maka dimensi tempat untuk rejeki dapat dinomorduakan, lebih-lebih dijaman internet dan globalisasi ini.
Orang dapat meraup rejeki banyak sekali, meskipun sehari-hari berdiam di rumah saja.

Kalimat mencari rejeki tidak ada dalam Falsafah Adat Alam MinangKabau.
Dari hal ini di simpulkan bahwa kegiatan merantau bagi orang MinangKabau pada dasarnya bukan untuk mencari rejeki, tetapi untuk menambah wawasan seseorang agar mampu mengambil rejeki yang memang tersedia di mana - mana termasuk di kampung sendiri, seperti kata pepatah :

Setinggi-tingginya bangau terbang, hinggapnya di kubangan juga

Waro'
Artinya menghindarkan diri dari perbuatan tercela seperti menggunakan barang atau makanan yang sifatnya subhat (meragukan), apalagi yang jelas-jelas hukumnya haram.
Yang dimaksudkan barang atau makanan yang subhat dan haram bukan saja yang pengertiannya haram fisik seperti babi dan anjing tapi ada yang lebih penting lagi yaitu tentang cara mendapatkan barang-barang tersebut.

Barang atau makanan milik orang lain 60 yang tidak direlakan penggunaannya oleh pemilik, misalnya hasil curian, penipuan, korupsi dan komisi yang bukan hak, jelas termasuk haram.

Untuk memiliki barang orang lain, maka harus ada akad (pernyataan) yang jelas antara si pemberi dan si penerima misalnya dalam bentuk gaji, honor, jual beli, utang, komisi, hibah, sedekah, zakat, dsb. yang disahkan dengan aturan.
Apabila tidak ada akad yang jelas, maka barang-barang tersebut dapat dimasukkan ke dalam kelompok haram atau subhat.

Istiqomah
Berarti yakin dengan pendirian yang benar.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih, jalan Allah atau jalan setan yang sesat.
Jalan Allah adalah petunjuk Alquran dan sunnah rasul.

Untuk memahami petunjuk Alquran dan sunnah rasul maka setiap orang diwajibkan belajar dan tidak bodoh (jahiliyah).
Belajar adalah proses berpikir untuk mengetahui hukum-hukum Allah dengan melibatkan pendapat/ilmu yang lain.
Ilmu sifatnya netral, bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan, oleh karena itu petunjuk (hidayah) Allah perlu dimintakan setiap saat.

Ketika sholat kita membaca Ihdinash shiroothol mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus), paling sedikit kalimat tersebut diucapkan 17 kali dalam sehari-
Kegiatan berfikir dan berzikir harus dikerjakan bersama-sama (nan dua, adat nan sebenarnya adat).

Orang yang hanya berfikir saja bisa menipu
Orang yang hanya berzikir saja bisa tertipu

Apabila proses berfikir yang dituntun zikir telah dilaksanakan secara baik, maka realisasikan hasilnya (pendirian) tersebut dengan ucapan yang indah (estetis), tidak menyinggung perasaan orang lain.
Yakinlah pada diri kita bahwa itulah yang benar.

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama